Abstrak
Musik
Glundeng merupakan kesenian tradisonal
yang mempunyai fungsi sebagai musik hiburan rakyat yang asal mulanya
digunakan untuk acara pelepasan burung merpati. Kesenian musik tradisional
Glundeng sangat terpadu dengan kehidupan masyarakat setempat serta memiliki
peranan dan fungsi di dalam kehidupan masyarakat pendukungnya Sebagai salah satu perwujudan kebudayaan.
Kata kunci : Glundeng, Musik Tradisonal
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kabupaten Bondowoso adalah sebuah
kabupaten yang terletak di provinsi Jawa Timur. Bondowoso mempunyai beragam
jenis kesenian yang meliputi seni musik, tari dan teater. Kesenian yang
terkenal sampai saat ini adalah Singo ulung yang masih secara rutin dipentaskan setiap tanggal 15 Sya’ban menjelang bulan ramadhan saat
bulan purnama di desa Blimbing (Mashoed, 2004:182). Sebenarnya
masih banyak jenis kesenian lain di Kabupaten Bondowoso yang masih belum
diketahui oleh masyarakat luar pada umumnya dan masyarakat Bondowoso itu
sendiri. Salah satunya adalah kesenian musik tradisional Glundeng yang ada di desa Tamanan Kecamatan Tamanan Kabupaten
Bondowoso.Glundeng mempunyai persamaan arti
kata “DUNG” dan “DENG” yaitu gejala perubahan bunyi yang disebut
epentesis
dan
penambahan kata dari d menjadi
gl pada awal kata sehingga menjadi kata
Glundeng.
Glundeng merupakan seperangkat alat musik
yang terbuat dari kayu, yang terdiri dari tujuh wilahan kayu dan body (rancak) kayu. Menurut Yadi, seorang tokoh seniman dari Desa Tamanan
Kabupaten Bondowoso mengatakan kayu yang digunakan dalam pembuatan alat musik Glundeng adalah kayu jati yang usianya sudah tua dan kering serta berwarna merah,
sehingga bisa menghasilkan suara yang bagus. Untuk rancak atau tempat wilahannya
bisa dibuat dengan menggunakan kayu apa saja, karena hanya berfungsi untuk
menopang wilahan. Setiap rancak Glundeng berisi tujuh wilahan yang bernada laras slendro dan ditambah alat musik
lainnya, seperti jidor, dug-dug (kentongan), dan suling (Wawancara
dengan Yadi, 19 November 2011 salah satu
seniman dari Desa Tamanan Kabupaten Bondowoso).
Asal mula musik Glundeng di daerah Bondowoso berdasarkan keterengan seniman
setempat yaitu Wagiman, musik Glundeng telah ada sejak tahun 1930-an
dan dilestarikan secara turun-temurun sebagai bentuk wujud pelestarian musik
tradisional Glundeng. Musik Glundeng merupakan musik hiburan rakyat yang asal mulanya
digunakan untuk acara pelepasan burung merpati, orang Madura biasa menyebutnya
dengan lebburan atau totta’an. Burung merpati dilepas dari
rumahnya (bekupon) atau dalam bahasa
Madura rumah merpati disebut pejudun
sebanyak 10-20 ekor merpati, kemudian dilepas bersama-sama dengan tanda
kentongan dan musik Glundeng ini
langsung ditabuh untuk memberikan semangat serta hiburan kepada masyarakat. Musik Glundeng merupakan kesenian
rakyat yang berfungsi sebagai hiburan masyarakat dan mempunyai ciri khas
tersendiri bagi masyarakat Bondowoso yang mayoritas penduduknya bercocok tanam.
Kayam
(1982: 59-70), Menyatakan Tiap-tiap kesenian tradisional mengandung
sifat-sifat atau ciri khas dari masyarakat tradisional pula yaitu masyarakat
petani”. Kesenian juga bisa disebut sebagai kesenian rakyat karena mempunyai
ciri nilai yang terjalin dalam kesenian rakyat itu merupakan refleksi dari cara
hidup sehari-hari atau bersumber pada mitos. Kesenian juga memegang peranan
penting dalam kehidupan sosial, artinya kesenian memiliki nilai sosial.
Kegiatan seni melibatkan masyarakat karena hasilnya berguna bagi seluru
masyarakat. Demikian juga dengan seni musik yang mempunyai fungsi peran yang
berbeda-beda, baik secara aktif maupun pasif, misalnya : (1) Musik dalam agama,
(2) Musik dalam masa perjuangan, (3) Musik untuk Hiburan, (4) Musik untuk
pendidikan, (5) Musik untuk perdagangan. Begitupun dengan musik yang mempunyai
pengaruh besar sekali dalam kehidupan manusia, tingkah dan aktifitas manusia.
Karena adanya pengaruh inilah kemudian musik dapat berfungsi sebagai sarana
hiburan saja tetapi juga banyak bentuk dan segi pengaruh yang diberikan oleh
musik dalam kehidupan manusia sepenuhnya (Dungga 1990: 17).
Musik Glundeng pada saat ini tidak lagi dipakai untuk pelapasan burung
merpati tetapi dipertunjukkan diacara hari jadi Kabupaten Bondowoso, hari jadi
kemerdekaan Republik Indonesia dan dalam rangka acara gerak jalan tradisional
gerbong maut Tamanan-Bondowoso, pada acara itu musik Glundeng dipertunjukkan untuk pelepasan acara gerak jalan tersebut.
Teknik permainan pada musik Glundeng hampir sama dengan teknik
pukulan pada permainan seperangkat gamelan ageng di Jawa, yang terdiri dari
teknik cara memukul balungan, bonang,
kethuk, kenong dan lain-lain. Nama-nama alat musik pada Glundeng sama dengan Gamelan Ageng
seperti demung, saron, peking, jidor,
dug-dug (kenthongan), dan suling. Masing-masing alat tersebut mempunyai
fungsi sendiri-sendiri, misalnya jidor
dan dug-dug (kenthongan) sebagai alat ritmis,
sedangkan demung, saron dan suling
sebagai melodis. Sehingga alat musik Glundeng
tersebut bisa menghasilkan komposisi musik yang harmonis.
![]() |

Tidak ada komentar:
Posting Komentar