Jumat, 16 November 2012

MUSIK TRADISIONAL GLUNDENG DI DESA TAMANAN KECAMATAN TAMANAN KABUPATEN BONDOWOSO


Abstrak
            Musik Glundeng merupakan kesenian tradisonal  yang mempunyai fungsi sebagai musik hiburan rakyat yang asal mulanya digunakan untuk acara pelepasan burung merpati. Kesenian musik tradisional Glundeng sangat terpadu dengan kehidupan masyarakat setempat serta memiliki peranan dan fungsi di dalam kehidupan masyarakat pendukungnya Sebagai salah satu perwujudan kebudayaan.

Kata kunci : Glundeng, Musik Tradisonal
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kabupaten Bondowoso adalah sebuah kabupaten yang terletak di provinsi Jawa Timur. Bondowoso mempunyai beragam jenis kesenian yang meliputi seni musik, tari dan teater. Kesenian yang terkenal sampai saat ini adalah Singo ulung yang masih secara rutin dipentaskan setiap tanggal 15 Sya’ban menjelang bulan ramadhan saat bulan purnama di desa Blimbing (Mashoed, 2004:182).  Sebenarnya masih banyak jenis kesenian lain di Kabupaten Bondowoso yang masih belum diketahui oleh masyarakat luar pada umumnya dan masyarakat Bondowoso itu sendiri. Salah satunya adalah kesenian musik tradisional Glundeng yang ada di desa Tamanan Kecamatan Tamanan Kabupaten Bondowoso.Glundeng mempunyai persamaan arti kata “DUNG” dan “DENG” yaitu gejala perubahan bunyi yang  disebut  epentesis  dan  penambahan kata dari  d  menjadi gl pada awal kata sehingga menjadi kata Glundeng.
Glundeng merupakan seperangkat alat musik yang terbuat dari kayu, yang terdiri dari tujuh wilahan kayu dan body (rancak) kayu. Menurut  Yadi, seorang tokoh seniman dari Desa Tamanan Kabupaten Bondowoso mengatakan kayu yang digunakan dalam pembuatan alat musik Glundeng adalah kayu jati yang usianya sudah tua dan kering serta berwarna merah, sehingga bisa menghasilkan suara yang bagus. Untuk rancak atau tempat wilahannya bisa dibuat dengan menggunakan kayu apa saja, karena hanya berfungsi untuk menopang wilahan. Setiap rancak Glundeng berisi tujuh wilahan yang bernada laras slendro dan ditambah alat musik lainnya, seperti jidor, dug-dug (kentongan), dan suling (Wawancara dengan Yadi, 19 November 2011  salah satu seniman dari Desa Tamanan Kabupaten Bondowoso).
 Asal mula musik Glundeng di daerah Bondowoso berdasarkan keterengan seniman setempat yaitu Wagiman, musik Glundeng telah ada sejak tahun 1930-an dan dilestarikan secara turun-temurun sebagai bentuk wujud pelestarian musik tradisional Glundeng. Musik Glundeng merupakan  musik hiburan rakyat yang asal mulanya digunakan untuk acara pelepasan burung merpati, orang Madura biasa menyebutnya dengan lebburan atau totta’an. Burung merpati dilepas dari rumahnya (bekupon) atau dalam bahasa Madura rumah merpati disebut pejudun sebanyak 10-20 ekor merpati, kemudian dilepas bersama-sama dengan tanda kentongan dan musik Glundeng ini langsung ditabuh untuk memberikan semangat serta hiburan kepada masyarakat. Musik Glundeng merupakan kesenian rakyat yang berfungsi sebagai hiburan masyarakat dan mempunyai ciri khas tersendiri bagi masyarakat Bondowoso yang mayoritas penduduknya bercocok tanam.
Kayam (1982: 59-70), Menyatakan Tiap-tiap kesenian tradisional mengandung sifat-sifat atau ciri khas dari masyarakat tradisional pula yaitu masyarakat petani”. Kesenian juga bisa disebut sebagai kesenian rakyat karena mempunyai ciri nilai yang terjalin dalam kesenian rakyat itu merupakan refleksi dari cara hidup sehari-hari atau bersumber pada mitos. Kesenian juga memegang peranan penting dalam kehidupan sosial, artinya kesenian memiliki nilai sosial. Kegiatan seni melibatkan masyarakat karena hasilnya berguna bagi seluru masyarakat. Demikian juga dengan seni musik yang mempunyai fungsi peran yang berbeda-beda, baik secara aktif maupun pasif, misalnya : (1) Musik dalam agama, (2) Musik dalam masa perjuangan, (3) Musik untuk Hiburan, (4) Musik untuk pendidikan, (5) Musik untuk perdagangan. Begitupun dengan musik yang mempunyai pengaruh besar sekali dalam kehidupan manusia, tingkah dan aktifitas manusia. Karena adanya pengaruh inilah kemudian musik dapat berfungsi sebagai sarana hiburan saja tetapi juga banyak bentuk dan segi pengaruh yang diberikan oleh musik dalam kehidupan manusia sepenuhnya (Dungga 1990: 17).
Musik Glundeng pada saat ini tidak lagi dipakai untuk pelapasan burung merpati tetapi dipertunjukkan diacara hari jadi Kabupaten Bondowoso, hari jadi kemerdekaan Republik Indonesia dan dalam rangka acara gerak jalan tradisional gerbong maut Tamanan-Bondowoso, pada acara itu musik Glundeng dipertunjukkan untuk pelepasan acara gerak jalan tersebut.
Teknik permainan pada musik Glundeng hampir sama dengan teknik pukulan pada permainan seperangkat gamelan ageng di Jawa, yang terdiri dari teknik cara memukul balungan, bonang, kethuk, kenong dan lain-lain. Nama-nama alat musik pada Glundeng sama dengan Gamelan Ageng seperti demung, saron, peking, jidor, dug-dug (kenthongan), dan suling. Masing-masing alat tersebut mempunyai fungsi sendiri-sendiri, misalnya jidor dan dug-dug (kenthongan) sebagai alat ritmis, sedangkan demung, saron dan suling sebagai melodis. Sehingga alat musik Glundeng tersebut bisa menghasilkan komposisi musik yang harmonis.





 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar